24/03/12

askep CORPUS ALIENUM

BAB I
TINJAUAN TEORITIS
CORPUS ALIENUM
A.Konsep Dasar Medik
1.Definisi
     Terjadi akibat masuknya benda asing ke dalam bola mata. Bulu mata, debu, kuku, dan partikal lewat udara dapat kontak dengan konjungtiva atau kornea dan menyebabkan iritasi atau abrasi. Pada benda asing di mata, umumnya klien mengeluh adanya sensasi benda asing (merasa ada sesuatu di mata) atau penglihatan kabur. Nyeri terjadi jika epitel kornea cedera karna kornea mengandung saraf sensori berada dibawah epitel. Klien juga bisa mengalami epifora dan fotofobia.
2.Jenis Benda Asing Pada Mata
·        Benda logam
Terbagi menjadi benda logan magnit dan bukan magnit
Contoh :emas, perak, platina, timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga, besi.
·        Benda bukan logam
Contoh :batu, kaca, porselin, karbon, bahan pakaian dan bulu mata.
·        Benda insert
- Adalah benda yang terdiri atas bahan-bahan yang tidak menimbulkan reaksi jaringan mata, ataupun jika ada reaksinya sangat ringan dan tidak mengganggu fungsi mata.
- Contoh :emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, plastic tertentu
- Kadang-kadang benda insert memberikan reaksi magnit yang mungkin dapat mengganggu fungsi penglihatan.
3.Anatomi dan Fisiologi
4.Manifestasi Klinis
     Pasien biasanya datang mencari pertolongan karna nyeri yang mendadak, yang biasanya sangat intensif,fotofobia,sensasi benda asing, dan air mata berlebihan. Ketajaman penglihatan mungkin normal atau menurun, bergantung tempat lesinya.
5.Penatalaksanaan
      Benda asing yang tidak menembus dibawah kelopak mata atas dapat diambil dengan mengangkat kelopak mata atas keatas kelopak mata bawah sehingga memungkinkan bulu mata kelopak mata bawah menyapu benda asing tersebut keluar dari kelopak mata atas.
      Aternatif lain, benda asing dapat dikeluarkan dengan irigasi, hati-hati jangan sampai menyentuh kornea. Bila benda asing tidak dapat diambil dengan cara ini, mata harus ditutup dan dibalut dan pasien dirujuk ke ahli oftalmologi. Salah satu bahaya benda asing konjungtiva adalah ancaman terhadap kornea.
      Bila epitel kornea yang merupakan benteng alamiah terhadap mikroorganisme, mengalami gangguan mata menjadi rentan terhadap infeksi. Maka luka pada kornea harus diinsfeksi setiap hari untuk mengetahui adanya buku insfeksi sampai telah sembuh dengan sempurna.

6.Komplikasi
1.Endoftalmitis
2.Panoftalmitis
3.Ablasi retina
4.Pendarahan intraokular
5.Ftisis bulbi
7.Pengobatan
     Apabila terletak disebelah anterior dari zonula lensa, maka benda asing harus dikeluarkan melalui insisi limbus dan kamera anterior. Apabila benda tersebut terletak dibelakang lensa dan disebelah anterior ekuator, maka pengeluaran dilakukan melalui area pars plana yang paling dekat dengan benda asing karna dengan cara ini kerusakan retina lebih sedikit. Apabila benda asing harus dikeluarkan melalui insisi limbus dari sebuah posterior dari ekuator, maka benda tersebut sebaiknya dikeluarkan melalui pars plana dengan vitrektomi/forceps intraocular, sehingga dapat dihindari terjadinya pendarahan besar koroid akibat insisi dinding posterior bola mata. Metode ini digunakan untuk benda asing magnetik maupun non magnetik. Tersedia forseps-forseps khusus untuk memegang benda berbentuk sferis. Setiap bagian retina yang rusak harus distrapi dengan diatermi, fotokoagulasi, atau koagulasi endolaser untuk mencegah palpasan retina.
8.Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen orbita untuk memastikan adanya benda asing di dalam mata.
         



B.Konsep Dasar Keperawatan
A.Pengkajian
1. Anamnesa
a.Identitas klien
 
b.Identitas penanggung jawab
2. Keluhan Utama
Dilihat dari tanda dan gejala penyakitt
3. Riwayat Trauma
 Penyakit yang diderita sekarang
4. Riwayat Penykit Dahulu
Penyakit yang pernah diderita yang mungkin menyebabkan timbulnya penyakit sekarang
5. Pola Kebiasaan
a. Pola pemeliharaan kesehatan
b. Pola aktivitas
c. Pola nutrisi
d. Pola istirahat dan tidur
e. Pola eliminasi
f. Pola psikososial


B. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum Klien
a.Kesadaran
b.Vital sign
2. Pemeriksaan Sistematis
a. Visus (menurun atau tidak ada)
b.Gerakan bola mata (dapat terjadi pembatasan atau hilangnya sebagian pergerakan bola mata)
c. Pupil (reaksi pupil terhadap cahaya melambat atau hilang
d. Bentuk pupil berubah (tidak bulat pada iridodialisis, melebar pada rupture iris)
e. TIO (menurun pada hifema atau hernia badan kaca)
f. Pemeriksaan khusus (sinar-x, computed tomography, USG).
2.Diagnosa Keperawatan
A.     Gangguan sensori – persepsi (visual) berhubungan dengan ablasio retra, edema retina, erosi kornea.
B.     Resiko cedera berhubungan dengan  gangguan penglihatan akibat trauma
C.     Ansietas berhubungan dengan penurunan penglihatan dan kemungkinan terjadinya kebutaan
D.     Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat trauma
E.      Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat (tidur) berhubungan dengan kesulitan menutup mata dan nyeri mata.

3.Nursing Care Plane
No
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Paraf
1.
Gangguan sensori – persepsi (visual) berhubungan dengan ablasio retra, edema retina, erosi kornea.
Klien beradaptasi terhadap penurunan visual yang terjadi
1.Tentukan tajam penglihatan klien,catat apakah satu atau kedua mata terlibat.
2.Kurangi situasi kacau, atur pengobatan dan atur penyinaran.
3.pada klien yang mengalami abrasi retina, anjurkan klien bedrest dengan satu atau kedua mata ditutup.
4.kolaborasi
 a.berikan pengobatan sesuai indikasi mata dan derajat komplikasinya; antibiotic (topical, peroral, atau sub konjungtiva).
b.siapkan intervensi bedah sesuai indikasi
1.kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi.
2.membantu klien menganali keterbatasan penglihatan.
3.mengistirahatkan mata dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
4.a.mengatasi dan mencegah infeksi lebih lanjut
b.mengatasi kelainan atau komplikasi yang terjadi dan mencegah keruusakan lebih lanjut.

2.
Resiko cedera berhubungan dengan gaangguan penglihatan akibat trauma.
Klien tidak mengalami dan dapat menghindari cedera.
1.Dapatkan deskripsi fungsional tentang apa yang bias dan tidak bisa dilihat oleh klien.
2.Orientasikan klien terhadap lingkungan sekitar
3.Batasi aktivitas klien (seperti menggerakkan kepala tiba-tiba,dll) dan bantu aktivitas klien sesuai kebutuhan
1.memberikan data dasar tentang pandangan akurat klien.
2.klien mengenal lingkungannya sehingga cedera dapat dihindari
3.memenuhi kebutuhan sehari-hari klien tanpa menyebabkan cedera.

3.
Ansietas berhubungan dengan penurunan penglihatan dan kemungkinan terjadinya kebutaan
Kecemasan klien berkurang atau hilang
1.gunakan pendekatan untuk menerangkan klien saat memberikan informasi.
2.Dorong klien mengekspresikan perasaan tentang kehilangan penglihatan.
3.Beritahu klien tentang penyakitnya
1.pemecahan masalah sulit untuk orang yang cemas.
2.memberi kesempatan klien untuk menerima situasi nyata.
3.mengurangi kecemasan klien.

4.
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan sekunder akibat trauma.
Klien dapat menerima perubahan tubuhnya.
1.Beritahu klien tentang kondisi dan tujuan dari tindakan yang dilakukan
2.Beritahu klien tentang prognosis penyakit secara jujur dan beritahu pentingnya ketaatan terhadap medikasi.
3.Libatkan keluarga atau orang terdekat klien
1.pengetahuan akan mengakibatkan kerjasama klien
2.meningkatkan penerimaan klien terrhadap perubahan yang terjadi
3.memberikan keyakinan bahwa klien tidak sendiri dalam menghadapi masalah.

5.
Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat (tidur) berhubungan dangan kesulitan menutup mata dan nyeri mata.
Kebutuhan istirahat klien terpenuhi
1.Kaji tingkat nyeri
2.Bicarakan dengan klien dan keluarga tentang terapi distraksi.
3.Beri kompres dingin dan hangat sesuai kebutuhan.
4.Beri kesempatan pada klien untuk istirahat pada siang hari dan waktu tidur malam hari.

1.Membantu menemukan rencana tindaka.
2.Mengurangi nyeri
3.mempercepat absorpsi cairan dan mengurangi nyeri
4.Mengurangi aktivitas mata sehingga nyeri berkurang dan kebutuhan istirahat terpenuhi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar